Senin, 13 April 2015

Analogi: "Pintu & Hati"



Pintu menutup ketika orang-orang tak memiliki kunci dan tak ada yang mau untuk membuka pintu itu atau bahkan yang lebih parah ketika pintu itu rusak dan tak membiarkan satu orangpun membukanya, pintu itu akan tetap dan terus menutup sehingga tak ada yang dapat memasuki ruang di balik pintu itu.
            Pintu bisa dijadikan analogi “perasaan”, ketika tak ada yg mencoba untuk membukanya maka ia tak akan terbuka, atau mungkin sebelumnya perasaan itu sudah pernah tersakiti sehingg ia tak ingin membukanya lagi. Lagi, semua itu tergantung kepada sang pemilik perasaan itu.
            Sedih, senang, bahagia, sakit hahh apapun sebutannya yang terpenting adalah bagaimana cara mengontrol semua itu melalui apa yang disebut kenangan, kenangan yang selalu ada di memori ingatan selamanya sampai kita menghembuskan oksigen yang terakhir kalinya atau bahkan jika terserang amnesia maka semua kenangan itu akan pergi.
            Seiring dengan berjalannya waktu ia pikir ia sudah tak bisa lagi merasakan indahnya berbagi cinta itu. Penghianatan, penipuan, bahkan pembunuhan hati itu semualah yang menyebabkan ketidak normalan fungsi “hati” tersebut.
            Pada mulanya semua itu adalah logika, logika yang tak pernah mati, logika yang tak pernah salah dalam memecahkan suatu permasalahan, sampai suatu ketika logika itu akhirnya berganti menjadi perasaan dan itu adalah kesalahan fatal yang pernah ia lakukan untuk pertama kalinya yaitu salah terhadap permasalahan “hati” yang melandanya dan perlahan ia jatuh dalam perasaan, yang membuatnnya sadar bahwa selama ini adalah ambisinya untuk mendapatkan sesuatu yg harus menguntungkan untuknya berupa panggung eksistensi, berupa ketenaran, bahkan sampai membuahkan ia sampai menjadi seorang pemimpin.
            Ia merasa sempurna dengan semua itu, memanfaatkan lingkungannya untuk membuatnya terkenal, membuatnya menjadi pahlawan dalam sekejap, tapi semua itu hanya bertahan sebentar sampai ia bisa merasakan pahitnya penghianatan membuatnya tak ingin mempercai itu kembali dan membuatnya kembali dengan logikanya, perasaan itu kembali terkunci dalam waktu yang cukup lama.
            Kini perasaan itu mulai membuka sedikit pintunya, mengintip di antara celah-celah. Bertanya “Apakah diluar sana sudah aman untuk aku memmbukanya dengan lebar.? Ku pikir belum, karena bertahun-tahun lamanya aku mengunakan logika tak pernah salah akan tetapi sebentar saja aku membukanya dan itu akan salah. Aku tak mau mengulanginya lagi” *pintu kembali terttup*
            Entah sampai kapan pintu itu akan terus tertutup, ketakutan selalu menghampirinya. Bagaimana jika ia jatuh cinta.? Ia hanya percaya bahwa ketika itu cinta perutnya seperti banyak kupu-kupu yang menari-nari bak balerina menari diatas panggung.
            Apakah sekarang ia merasakan cinta itu kembali.? Hahh entahlah kini logikanya berkelahi dengan perasaannya tak ada yang kalah atau menang, ia harus bisa seimbang maka tercetuslah sebuah gagasan yang menurutnya adil bagi dirinya sendiri.
Aku akan tetap terus mengagumimu dari kejauhan, menyembunyikan perasaan  ini agar kau tidak mengetahui perasaan ini, hanya dengan melihat senyumanmu, canda mu, aku sudah bahagia. Bukankah hadiah perasaan itu Cuma rasa bahagia.? Yahhh rasa bahagia walau tak memilikimu, aku tak berharap kau mengetahuinya karena ini akan adil untuk logika ku yang selalu berpikir tidak boleh jatuh cinta karena itu akan membuahkan penghianatan. Inilah caraku berlaku adil kepada perasaan dan logika
Tak tahu sampai kapan ia seperti itu, hanya waktu yang bisa menjawab itu semua, hanya ketika sang pemilik “hati” itu ingin mencobanya lagi, mencoba untuk berbagi cinta dan kebahagiaan.





Hanya lewat tulisan ini aku mampu  untuk membuat diriku bahagia, dengan tetap menyayangimu dalam diam. Tetaplah menjadi bintang yang paling terang agar aku bisa melihatmu dimanapun aku berada dan aku bisa mengucapkan selamat malam untukmu, selamat beristirahat, semoga mimpi indah dan biarlah aku hanya menjadi teman specialmu






Oleh : ^Des_Gam^ 13  April 2015^
22.45 Wita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar